Senin, 02 Januari 2012

PONDOK

Pondok Pesantren Daar Er-qolam II
Cerita pendek sederhana ini, hanya sebagai ungapan rasa rindu terhadap "Pondok" yang sudah mendidik dan mengajari tentang banyak hal selama 6 tahun. Ini modal dasar untuk mengenal tantangan hidup. Kalau hidup itu memang butuh perjuangan dan juga pengorbanan. Tetapi dari semua itu, saya bisa mengenal lebih dekat lagi mengenai agama.  Terima kasih pondok karena sudah ikut berperan dalam membangun karakter  yang ada didalam diri saya dan semua orang yang merasakan hal yang sama dengan saya.  Selamat membaca :)


Diceritakan sebuah kisah tentang seorang ‘alim yang tinggal di sebuah daerah terpencil jauh dari suasana keramaian kota dan hidup bersama lingkungan keluarga yang taat beragama. ‘Alim tersebut bernama Ibnu Hafidz, ia adalah bekas seorang santri yang dikenal cerdas dan bersahaja. Pada usianya yang masih terbilang sangat muda, ayahnya memasukannya ke sebuah pondok pesantren yang berjarak sangat jauh dari kampung halamannya. Namun Abdul Basit tidak pernah menolak, apalagi mengeluhi apa yang diperintahkan kedua orang tuanya. Setelah usai menyelesaikan pendidikannya selama 9 tahun lamanya, sebagai santri dan juga ustad. Abdul Basit kembali ke kampung halamannya, untuk memenuhi permintaan orang tuanya yang sudah bertahun-tahun lamanya ditinggalkan demi  menuntut ilmu di Pesantren itu.
Beberapa bulan telah berlalu, tiba-tiba saja ia merasakan gelisah yang teramat sangat. Ia merasakan  keberadaannya seperti hampa, ia berpikir ilmu yang selama ini didapatnya  tidak lagi bermafaat. Ia ingin kembali ke Pesantrennya dulu. Dimana ia bisa belajar dan mengajar mengaji. Dimana ia bisa membagikan ilmu yang ia miliki kepada anak-anak didiknya. Dimana ia bisa berkumpul bersama-sama orang yang shaleh. Mendengarkan lantunan ayat qur’an ketika menjelang tiap-tiap waktu shalat. Baginya, semua itu adalah hal yang indah. Hingga pada suatu hari timbullah keinginannya untuk menceritakan semua itu kepada ayahnya.
Usai melaksanakan shalat sunnah hajat, Ibnu Hafidz keluar mengampiri ayahnya yang tengah duduk di depan teras, matanya yang sudah agak sayup memandangi sekitar lahan sawah yang berada di seberang jalan kecil rumahnya. Tangannya yang terlihat rapuh  memegangi tasbih kusam berwarna coklat kayu. Diatas teras tempatnya duduk, ada segelas kopi yang masih hangat. Perlahan-lahan ia mendekati ayahnya itu.
Ayah”, ucapnya kemudian segera mencium kedua punggung tangan ayahnya.
“Hafidz, ada apa nak? Tidak seperti biasanya kamu terlihat gugup seperti itu”, tanya ayah kemudian menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.
“Ayah, ada suatu hal yang ingin Hafidz utarakan kepada ayah. Ini menyangkut masalah tanggung jawab Hafidz, 9 tahun lamanya menahan pedih, jauh dari ayah dan ibu demi menuntut ilmu di Pesantren. Tetapi setelah kini Hafidz dapatkan, walupun itu masih sangat jauh dari sempurna. Hafidz merasa tiada bermanfaat ilmu itu kalau tidak diajarkan kepada mereka yang berhak” keluhnya.
Ayahnya tersenyum lalu bertanya “lantas apa keinginanmu sekarang ?”, tanpa menoleh sedikit pun ke arah anaknya itu. Walupun sebenarnya ayahnya tahu maksud keluhan anaknya itu.
Dengan ragu-ragu ia berkata, “izinkanlah Hafidz untuk kembali ke pesantren, agar Hafidz bisa mengajar lagi” ucapnya dengan nada rendah.
Ayahnya pun berdiam sejenak dan menjawab permintaanya anaknya itu, “Lantas bagaimana dengan kami disini, Hafidz. Kami sudah sangat tua dan hanya kamu satu-satunya harapan dan harta kami. Apakah kamu akan tega meninggalkan kami yang sudah renta seperti ini?”.
“Maafkan hafidz ayah, hafidz tidak bermaksud untuk membuat ayah dan ibu bersedih”, merunduk menyesal, “akan tetapi”. Tiba-tiba saja ia menghentikan ucapanya, khawatir akan membuat ayahnya akan lebih merasa sedih.
“Anakku hafidz” menoleh ke anaknya dan kemudian melanjutkan perkataanya, “lihatlah anak-anak yang sedang bermain di sawah itu!” sambil menunjuk ke arah sawah yang berada di seberang jalan.
“Apakah mereka tidak layak dan berhak untuk mendapatkan pendidikan ilmu seperti halnya anak-anak yang pernah kamu ajarkan dan kamu didik disana?”. Tanya ayahnya.
“Maksud ayah?”, ia terheran dan tidak lama kemudian ayahnya pun segera menjelaskannya,
“Anak-anak yang bermain di sawah itu, sama halnya dengan anak-anak yang kamu ajarkan disana. Mereka juga membutuhkan dan berhak mendapatkan didikan yang sama. Tetapi tidak banyak yang sadar akan hal itu. Adapun mereka yang sadar dan perduli akan masa depan anak-anak mereka, tidak bisa berbuat banyak, karena tidak ada tenaga pengajar yang mampu untuk mendidik dan mengajari anak-anak mereka. Apakah kamu akan membiarkan mereka terus-menerus seperti itu. Tidak memiliki bekal ilmu yang memadai untuk masa depan mereka nanti. Dan yakinlah anakku,                                                                                                bahwa mereka yang disana tidak akan merasa kekurangan pengajar sepertimu”. Hafidz terdiam memahami semua maksud dari perkataan ayahnya, sembari beristighfar air matanya mengalir membasahi pipinya.
“Terima kasih ayah, Hafidz benar-benar lalai sehingga tidak mengetahui keberadaan dan keadaanya anak-anak itu. Jika ayah mengizinkan, Hafidz akan menjadi guru bagi mereka sebagai tanda pengabdianku kepada ayah dan ibu dan juga tanggung jawabku kepada Sang Maha Pencipta.
Beberapa hari setelah percakapan tersebut, Ibnu Hafidz mulai berpikir. Mungkin merenungi apa yang telah ayahnya ucapkan waktu itu. Ia seperti mulai mendapatkan kunci jawaban dari kegelisahan hatinya selama ini. Di gudang belakang yang terletak tidak jauh da samping rumahnya. Dia menghabiskan waktunya disana sepanjang hari. Hanya sesekali keluar untuk sekedar melaksanakan shalat. Ia pun tidak mengizinkan kedua orang tuanya tahu apa yang ia kerjakan di gudang itu. Hingga sempat membuat keduanya khawatir, tetapi hanya satu kalimat yang ia katakan kepada orang tuanya apabila mereka menanyakan hal itu.
“Nanti ayah dan ibu pasti akan tahu” katanya.
Kedua orang tuanya tidak banyak memaksa. Hingga sebulan pun berlalu, ia mengajak kedua orang tuanya ke gudang itu. Dan alangkah terkejutnya mereka melihat gudang yang terlihat kusuh dari luar namun di dalamnya kini terlihat bersih, rapih, dan tidak ada lagi barang-barang bekas yang hhvdulu pernah disimpan disini. Tampak terlihat seperti di dalam sebuah Mushalla sederhana. Karena terdapa\t ukiran-ukiran kaligrafi yang bertuliskan sebagian ayat-ayat al-qur’an dan hadits di setiap dinding dan lurus melintang mengitari gudang. Tikar kusam yang terbuat dari anyaman daun kelapa terhampar menutupi lantai tanah. Dan terdapat dua meja lesehan kecil, di atasnya tertumpuk beberapa al-qur’an yang sudah kusam. Di sampingnya, tepat di pojok gudang berdiri sebuah papan yang disangga dengan dua batang kayu yang sepertinya memang bukan disitu tempatnya dan terlihat seperti sebuah plang sebuah nama bertuliskan “ Pondok Daarul Huda “. Ibunya berbalik arah mengahadap Ibnu Hafidz lalu merangkulnya dengan berlinang air mata karena terharu akan perjuangan anaknya itu. Di sampingnya, sang ayah pun tidak sanggup membendung air matanya karena hal yang sama.
Apa yang yang dibuatnya sekarang bukanlah pondok yang bisa banyak menampung anak-anak yang haus akan ilmu serta didikan. Melainkan sebuah tempat pengajian kecil tetapi mereka juga diajarkan dan dibekali dengan ilmu-ilmu agama dan umum walaupun tidak sebaik sebagaimana hal-nya di sekolah. ini membuahkan hasil karena ada sebagian orang yang mau menjadi relawan untuk mengfasilitasi kebutuhan belajar mereka. Hingga selesai angkatan pertama ada sebagian dari mereka yang memilih untuk menjadi pengajar secara cuma-cuma bagi generasi selanjutnya sebagai rasa terima kasih dan balas budi. Salah seorang pengajar wanita dari mereka yang bernama Ayu Aisyah kini menjadi istri Ibnu Hafidz. Dia merupakan mantan muridnya yang sangat cantik dan cerdas. Ibnu Hafidz menikahinya setelah ayahnya wafat. Ketika itu usianya memasuki kepala tiga. Dia dan istrinya mengurusi pondok itu sampai anaknya yang pertama berusia 10 tahun. Ibunya meninggal menyusul ayahnya.
Bergulirnya waktu telah merubah dan menyulap bekas gudang yang dulu hanya tempat pengajian kecil yang disebut pondok. Tetapi kini sudah lain. Gudang itu sudah tidak ada lagi, yang ada hanya sebuah komplek asrama dan di tengah-tengahnya berdiri kokoh sebuah masjid besar. Bersih, rapih, banyak tanaman hias tumbuh, pohon-pohon sunai berjajar di pinggir jalan kecil asrama, terdapat banyak slogan-slogan indah dan kata-kata mutiara dalam bahasa arab memenuhi plang-plang di sekitarnya. Benar-benar telah berubah. Bukan lagi pondok kecil seperti dulu melainkan pondok besar yang disebut pesantren. Pesantren Daarul Huda. Yang kini berusia 20 tahun.
Ibnu Hafidz duduk di sebuah makam terbuat dari keramik merah pekat. Makam kedua orang tuanya yang bersebelahan. Diantara kedua makam tersebut tumbuh sebuah pohon yang merunduk rindang. Mulutnya tampak sedang komat-kamit membacakan sebuah do’a namun tidak jelas. Ia tidak semuda dulu bahkan sudah sangat tua sekali. Rambutnya telah memutih ditutupi seperti menyatu dengan peci putih yang ia kenakan di kepalanya, kulitnya pun telah kendor, sebuah kacamata minus menggantung diantara kedua telinganya. Tanpa terasa air mata mengalir mengikuti garis wajahnya yang keriput.  Dirinya membatin, apa yang diucapkan. Entahlah. Telalu lama ia duduk di makam itu. Hanya sepertinya ia merasa kedua orang tuanya sedang tersenyum manis padanya sekarang.
“Mari ayah, sebentar lagi akan turun hujan. Tidak baik untuk kesehatan ayah” suara seorang lelaki yang masih muda dan tampan yang dari tadi berdiri menemaninya. Laki-laki itu merangkul lembut tubuh Ibnu Hafidz yang renta dan membantunya berdiri. Kemudian perlahan-lahan membawanya menuju sebuah mobil Avanza hitam yang tidah jauh diparkir di sekitar pemakaman. Ia hanya diam. Di dalam mobilnya seorang wanita paruh baya namun masih terlihat segar tersenyum ke arah keduanya.  Kemudian turun membantu laki-laki tua itu masuk ke mobil. Wanita itu adalah ibu laki-laki muda tampan tersebut, istri dari Ibnu Hafidz. Wajahnya masih terlihat belum tua hanya bagian lehernya saja.
“Langsung pulang saja Ikram, ibu khawatir dengan keadaan ayahmu” kata wanita itu kepada anaknya.
“baik umi” balasnya. Dan tanpa banyak berkata lagi ia mengemudikan mobilnya keluar area pemakaman dan melesat menjauh. Di perjalanan wanita itu terlihat terus mengusap kedua tangan suaminya yang tersasa dingin. Namun ia hanya terdiam tidak bergerak. Hingga membuat istrinya semakin cemas. Matanya yang redup terus menerawang ke depan. Perlahan-lahan matanya mulai terkatup. Nafasnya ikutan melemah. Segera saja mobil itu berhenti tepat di bawah plang besar bertuliskan “ Pondok Pesantren Daarul Huda”. Laki-laki renta itu menghembuskan nafas terakhirnya yang kemudian diiringi linangan air mata anak dan istrinya.