Jumat, 13 Juni 2014

Dua Puluh Dua

Saya tidak tahu bagaimana untuk mengawali tulisan ini. Dan saya memilih untuk tidak mau memikirkannya karena saya tahu saya akan berpikir lama. Jika saya berpikir, hanya ada dua kemungkinan; saya tidak jadi menulis atau tetap menulis tetapi tentu saja saya telah membuang-buang waktu.

Jadi, kemarin umur saya telah bertambah satu. Itu artinya pertemuan saya dengan Tuhan semakin dekat. Jangan tanya kenapa saya berpikir seperti itu. Saya hanya ingin bersikap jujur, jujur pada apa yang ada di dalam kepala saya. Bukan berarti saya ingin cepat-cepat mati. Tentu saja bukan. Kalau boleh saya mengatakan. Saya belum memenuhi seluruh surat perjanjian saya dengan Tuhan. Surat yang dibuat sebelum saya lahir. Surat ini Tuhan tanda tangani dengan kehidupan sehingga saya bisa melihat dunia.

Saya tidak khawatir dan takut pada umur yang semakin bertambah. Saya percaya Tuhan itu maha segala-galanya. Saya sudah membuat permohonan, dan tentu saja permohonan baik. Karena Tuhan itu baik dan mencintai yang baik. Tetapi apabila saya mati sebelum merasakan permohonan itu atau bahkan sebelum sempat merasakan teriknya matahari besok. Percayalah, bahwa Tuhan sangat mencintai saya. Dan mencintai kita semua. Lalu bagaimana dengan yang jahat, dan kenapa harus ada yang jahat? Mudah saja, karena Tuhan itu Maha Adil. Hanya saja kita tidak melihat keadilan dari perspektif yang sama. Itu menurut saya. Silahkan menurut kamu.

Saya bahagia karena saya diberkahi oleh Tuhan. Dan jika saya sedih, itu karena saya mengurangi berkah itu. Lagi-lagi itu menurut saya. Silahkan menurut kamu.
Soal beradaptasi dengan hidup seperti dalam sebuah hubungan. Saya tidak akan pernah meminta seseorang untuk menetap dan tinggal dalam hidup saya. Karena pada hakikatnya saya tunggal, dan kita semua tunggal. Karena baik saya ataupun kamu hanya dijatahi satu liang lahat untuk sendiri. Tidak apa-apa kalau kamu tidak setuju. Hanya saya ingin mengatakan :
Kalau kamu ingin masuk ke dalam hidup saya. Pintunya selalu terbuka. Begitu juga sebaliknya, jika kamu ingin keluar dari hidup saya, pintunya akan tetap terbuka. Hanya satu permintaan saya. Jangan berdiri di pintu karena kamu akan menghalangi yang lainnya.

Belajar dari masa lalu, saya memperlakukan orang lain dengan baik karena saya ingin mereka memperlakukan saya dengan baik pula. Mencintai mereka agar mereka mencintai saya. Ini adalah fase yang cukup lama, dan akhirnya saya banyak merasakan sakit. Bagaimana bisa? Mudah saja menjelaskannya, seandainya dalam sebuah hubungan, katakan pertemanan. Kamu memperlakukan temanmu dengan baik bahkan seperti saudaramu sendiri, lalu dia memperlakukanmu sebaliknya, atau bersikap baik dan manis di depanmu tetapi menusuk dengan belati dari belakang. Bagaimana perasaanmu? Tidak perlu kamu beritahu saya, simpan saja untukmu.
Karena saya takut, saya juga adalah orang yang diperlakukan baik oleh orang lain diluar sepengetahuan saya.

Sabtu, 07 Juni 2014

Perkara Menulis

Perkara menulis...
Rasanya hampir setiap waktu, saya ingin menulis. Menulis tentang ini dan itu. Sudah lama sekali, bertahun-tahun. Tetapi semua tertunda begitu lamanya, sampai menjadi hantu yang usil di dalam kepala. Entah apakah saya benar-benar ingin menulis atau hanya ingin lari.
Lari dari apa ? Mungkin lari dari hidup. Sejujurnya saya ingin mengatakan: iya.
Tetapi sepertinya berat, lari dari hidup berarti mati. Saya belum ingin mati, atau tepatnya saya ingin mati tetapi rasanya belum siap. Namun dari itu semua, saya tidak ingin menyerah. Menyerah dari hidup. Semoga.

Baiklah. mungkin yang akan saya tulis adalah semua yang terpendam di dalam kepala. Semua kebodohan dan kepintaran yang saya miliki. Tentang pikiran di masa lalu. Lalu tentang kekhawatiran di masa depan. Banyak sekali. Terkadang membuat saya kesal tetapi juga menyukainya di waktu yang bersamaan. 



Pernah saya mengeluh. Suatu ketika saat saya telah mengambil posisi untuk menulis. Tiba-tiba pikiran saya pecah. Ibarat kawanan burung yang terbang berhamburan meninggalkan tempat mereka berkumpul karena terusik oleh batu atau kaleng yang dilempar kearah mereka. Apa yang sebelumnya saya ingin tuliskan hilang begitu saja. Kemudian saya meninggalkan posisi dan tidak jadi menulis. Begitu seterusnya. Selalu terulang-ulang.

Pernah saya bertanya. Pertanyaan untuk diri saya. "Kenapa saya tidak mulai menulis? Kenapa selalu tertunda?". Jawaban yang muncul di dalam kepala saya terlalu banyak. Sehingga sulit menentukan satu jawaban yang paling tepat dan pas untuk diri saya. Lalu saya bertanya kepada seorang teman. Saya mendapat jawaban yang sangat simpel. "Berhenti bertanya kenapa. Jika kamu ingin menulis. mulailah menulis sekarang".

Akhirnya muncul sebuah pikiran, bahwa saya ingin memiliki sebuah tempat. Tempat dimana saya bisa bercerita. Tempat dimana saya bisa menumpahkan isi di dalam kepala saya, tentang segala hal dari kehidupan ini. Banyak sekali. 

Pertanyaan untuk diri saya. Apakah saya akan bertahan menulis ? Mudah-mudahan saja begitu.