Saya tidak tahu bagaimana untuk mengawali tulisan ini. Dan saya memilih untuk tidak mau memikirkannya karena saya tahu saya akan berpikir lama. Jika saya berpikir, hanya ada dua kemungkinan; saya tidak jadi menulis atau tetap menulis tetapi tentu saja saya telah membuang-buang waktu.
Jadi, kemarin umur saya telah bertambah satu. Itu artinya pertemuan saya dengan Tuhan semakin dekat. Jangan tanya kenapa saya berpikir seperti itu. Saya hanya ingin bersikap jujur, jujur pada apa yang ada di dalam kepala saya. Bukan berarti saya ingin cepat-cepat mati. Tentu saja bukan. Kalau boleh saya mengatakan. Saya belum memenuhi seluruh surat perjanjian saya dengan Tuhan. Surat yang dibuat sebelum saya lahir. Surat ini Tuhan tanda tangani dengan kehidupan sehingga saya bisa melihat dunia.
Saya tidak khawatir dan takut pada umur yang semakin bertambah. Saya percaya Tuhan itu maha segala-galanya. Saya sudah membuat permohonan, dan tentu saja permohonan baik. Karena Tuhan itu baik dan mencintai yang baik. Tetapi apabila saya mati sebelum merasakan permohonan itu atau bahkan sebelum sempat merasakan teriknya matahari besok. Percayalah, bahwa Tuhan sangat mencintai saya. Dan mencintai kita semua. Lalu bagaimana dengan yang jahat, dan kenapa harus ada yang jahat? Mudah saja, karena Tuhan itu Maha Adil. Hanya saja kita tidak melihat keadilan dari perspektif yang sama. Itu menurut saya. Silahkan menurut kamu.
Saya bahagia karena saya diberkahi oleh Tuhan. Dan jika saya sedih, itu karena saya mengurangi berkah itu. Lagi-lagi itu menurut saya. Silahkan menurut kamu.
Soal beradaptasi dengan hidup seperti dalam sebuah hubungan. Saya tidak akan pernah meminta seseorang untuk menetap dan tinggal dalam hidup saya. Karena pada hakikatnya saya tunggal, dan kita semua tunggal. Karena baik saya ataupun kamu hanya dijatahi satu liang lahat untuk sendiri. Tidak apa-apa kalau kamu tidak setuju. Hanya saya ingin mengatakan :
Kalau kamu ingin masuk ke dalam hidup saya. Pintunya selalu terbuka. Begitu juga sebaliknya, jika kamu ingin keluar dari hidup saya, pintunya akan tetap terbuka. Hanya satu permintaan saya. Jangan berdiri di pintu karena kamu akan menghalangi yang lainnya.
Kalau kamu ingin masuk ke dalam hidup saya. Pintunya selalu terbuka. Begitu juga sebaliknya, jika kamu ingin keluar dari hidup saya, pintunya akan tetap terbuka. Hanya satu permintaan saya. Jangan berdiri di pintu karena kamu akan menghalangi yang lainnya.
Belajar dari masa lalu, saya memperlakukan orang lain dengan baik karena saya ingin mereka memperlakukan saya dengan baik pula. Mencintai mereka agar mereka mencintai saya. Ini adalah fase yang cukup lama, dan akhirnya saya banyak merasakan sakit. Bagaimana bisa? Mudah saja menjelaskannya, seandainya dalam sebuah hubungan, katakan pertemanan. Kamu memperlakukan temanmu dengan baik bahkan seperti saudaramu sendiri, lalu dia memperlakukanmu sebaliknya, atau bersikap baik dan manis di depanmu tetapi menusuk dengan belati dari belakang. Bagaimana perasaanmu? Tidak perlu kamu beritahu saya, simpan saja untukmu.
Karena saya takut, saya juga adalah orang yang diperlakukan baik oleh orang lain diluar sepengetahuan saya.