Minggu, 06 Juli 2014

Saya pernah berada di sekeliling orang-orang dengan kemampuan dan bakat tertentu, bahkan sekarang pun masih. Harus saya akui, saya senang berada di sekeliling orang-orang seperti mereka. Kemampuan dan bakat yang mereka miliki pastilah menjadi sebuah kelebihan tersendiri. Rasanya luar biasa jika memiliki salah satu dari apa yang mereka bisa;  melukis, bernyanyi, bermain musik, menulis, olahraga dan lain sebagainya. Kalau perlu jangan tanggung-tanggung untuk bisa menguasai beberapa diantaranya.

Sebagaimana tabiat manusia, saya terkadang membandingkan diri saya dengan mereka. Rasanya seperti saya bukan apa-apa, dan mereka luar biasa. Kemudian ini menjadi masalah pribadi saya. Saya melihat kemampuan dan bakat tertentu yang mereka miliki menjadi daya tarik dan memperkuat keberadaan mereka. Mereka dipuji karena mereka berbakat, mereka disanjung karena mereka bisa berkarya. Mereka mendapatkan perhatian dari orang-orang disekitar mereka dengan kelebihan mereka.

Tidak perlu saya pertegas karena bukan itu yang saya maksudkan, atau bukan itu yang ingin saya dapatkan. Saya sudah pernah menikmati pujian atau pun sanjungan, dan saya tidak sedang mengejar itu di dalam hidup saya. Ini sekedar keinginan atau hanya pemikiran orang seperti saya untuk mendapatkan kepuasaan dan kebanggaan tersendiri. Saya gambarkan seperti ketika saya mendapat ranking pertama di sekolah, untuk merasakannya, tidak perlu orang tua, guru, ataupun teman-teman memuji saya, atau sekedar kata-kata: "Wah, hebat ya kamu" atau "Kamu memang pintar". Cukup hanya dengan melihat angka satu yang tertera pada kolom rangking di dalam raport saja saya sudah akan merasa puas dan bangga. Entah ini terkesan naif atau apa, yang pasti saya menyatakan dengan apa adanya.

Lalu tentang kelebihan lain yang orang miliki, seperti: memiliki keluarga yang harmonis, tidak pernah kekurangan materi, memiliki penampilan yang menarik. Terkadang ini menjadi begitu bermasalah karena terlalu jauh membandingkan diri saya dengan mereka. Tetapi pada akhirnya saya semakin sadar dan semakin sadar, bahwa segala sesuatu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Saya merasa mereka lebih sempurna karena saya tidak memiliki apa yang mereka miliki. Tetapi mungkin saja mereka merasakan hal yang sama terhadap saya atau orang lain selain mereka.

Perlu saya katakan kepada diri saya sendiri bahwa jangan sampai sesuatu yang saya inginkan membuat lupa apa yang telah saya miliki. Karena itu adalah salah satu yang akan menjauhkan saya dari syukur.

Selasa, 01 Juli 2014

Penat

Kali ini saya sangat terobsesi dengan kalimat "Namanya juga manusia, Tuhan yang menentukan, kita yang menjalani, dan orang lain yang berkomentar". Sebuah kalimat yang menurut saya sangat super untuk tidak terlalu memperdulikan perkataan negatif orang lain tentang kita atau katakan tentang saya. Memang harus saya akui bahwa saya sangat sensitif dengan hal seperti ini. Karena sudah pasti ini sesuatu yang tidak menyenangkan hati. Atau yang lebih tidak menyenangkan lagi adalah ketika saya mencoba untuk berbuat sesuatu dengan niat baik tetapi justru disalah artikan dan dianggap tidak baik dan bahkan salah. Lalu ada hal yang jauh lebih tidak menyenangkan bahkan menyakitkan, yaitu ketika saya dianggap melakukan sesuatu yang sama sekali tidak saya lakukan.

Saya memiliki masalah pribadi dengan diri saya. Sehingga ketika saya berada dalam sebuah komunitas tertentu, sulit sekali memberikan pengertian tentang diri saya dan terkadang terlalu muluk apabila saya terlalu berharap orang lain akan mengerti. Mungkin tidak hanya saya, mungkin saja ini terjadi pada setiap orang. Saat hendak tidur atau sedang di dalam bis dalam sebuah perjalanan, saya hampir selalu merenung dan berpikir. Sampai kepada sebuah titik, akhirnya saya sadar untuk berhenti berharap orang lain akan mengerti saya. Karena tidak mungkin semua orang akan bisa mengerti, bisa jadi saya atau pun kamu terkadang sulit untuk mengerti orang lain. Setiap kepala mungkin memiliki otak yang sama, tetapi isi dari setiap otak pastilah berbeda. Seperti pepatah arab mengatakan "likulli ro'sin ro'yun".

Menjadi orang baik akan memberikan ketenangan dan kedamaian. Maka saya berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik setiap harinya. Untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian yang saya inginkan. Tetapi ternyata tidak semudah itu, tidak mudah menjadi orang baik dan meyakinkan orang lain bahwa saya ini baik dan tidak akan berbuat jahat. Karena baik ternyata relatif, mungkin baik untuk saya tidak untuk kamu, dia atau mereka. Saya baik versi saya, bukan baik versi kamu, dia, atau mereka. Karena saya hidup bukan untuk menjadi apa yang orang lain mau
. Baik atau buruk biar menjadi urusan saya dengan Tuhan.

Rasanya pamrih apabila saya berharap orang lain berlaku adil. Artinya ketika saya bersikap baik maka saya ingin orang lain pun harus bersikap baik kepada saya. Tetapi lagi-lagi ini adalah bagian dari hidup dan tabiat manusia. Maka ada sebuah kalimat yang ingin saya katakan kepada diri saya sendiri, yaitu: Jika kamu berharap dunia akan adil terhadapmu karena kamu telah berlaku adil, maka sebenarnya kamu sedang membodohi dirimu sendiri. Karena itu sama saja dengan meminta seekor singa untuk tidak memakan kamu karena kamu tidak memakan singa itu.

Saya meminta kepada Tuhan untuk selalu diberi kesadaran diri. Kesadaran diri menjadikan saya orang yang peka. Peka akan hakikat diri saya, peka akan lingkungan dan orang-orang di sekitar saya. Dan kepekaan ini mendekatkan saya kepada syukur. Tetapi manusia tetaplah manusia. Dan saya adalah salah satu dari manusia itu, terkadang terlalu asyik dan terlena sehingga saya lupa dan juga berlaku salah.