Kali ini saya sangat terobsesi dengan kalimat "Namanya juga manusia, Tuhan yang menentukan, kita yang menjalani, dan orang lain yang berkomentar". Sebuah kalimat yang menurut saya sangat super untuk tidak terlalu memperdulikan perkataan negatif orang lain tentang kita atau katakan tentang saya. Memang harus saya akui bahwa saya sangat sensitif dengan hal seperti ini. Karena sudah pasti ini sesuatu yang tidak menyenangkan hati. Atau yang lebih tidak menyenangkan lagi adalah ketika saya mencoba untuk berbuat sesuatu dengan niat baik tetapi justru disalah artikan dan dianggap tidak baik dan bahkan salah. Lalu ada hal yang jauh lebih tidak menyenangkan bahkan menyakitkan, yaitu ketika saya dianggap melakukan sesuatu yang sama sekali tidak saya lakukan.
Saya memiliki masalah pribadi dengan diri saya. Sehingga ketika saya berada dalam sebuah komunitas tertentu, sulit sekali memberikan pengertian tentang diri saya dan terkadang terlalu muluk apabila saya terlalu berharap orang lain akan mengerti. Mungkin tidak hanya saya, mungkin saja ini terjadi pada setiap orang. Saat hendak tidur atau sedang di dalam bis dalam sebuah perjalanan, saya hampir selalu merenung dan berpikir. Sampai kepada sebuah titik, akhirnya saya sadar untuk berhenti berharap orang lain akan mengerti saya. Karena tidak mungkin semua orang akan bisa mengerti, bisa jadi saya atau pun kamu terkadang sulit untuk mengerti orang lain. Setiap kepala mungkin memiliki otak yang sama, tetapi isi dari setiap otak pastilah berbeda. Seperti pepatah arab mengatakan "likulli ro'sin ro'yun".
Menjadi orang baik akan memberikan ketenangan dan kedamaian. Maka saya berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih baik setiap harinya. Untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian yang saya inginkan. Tetapi ternyata tidak semudah itu, tidak mudah menjadi orang baik dan meyakinkan orang lain bahwa saya ini baik dan tidak akan berbuat jahat. Karena baik ternyata relatif, mungkin baik untuk saya tidak untuk kamu, dia atau mereka. Saya baik versi saya, bukan baik versi kamu, dia, atau mereka. Karena saya hidup bukan untuk menjadi apa yang orang lain mau. Baik atau buruk biar menjadi urusan saya dengan Tuhan.
Rasanya pamrih apabila saya berharap orang lain berlaku adil. Artinya ketika saya bersikap baik maka saya ingin orang lain pun harus bersikap baik kepada saya. Tetapi lagi-lagi ini adalah bagian dari hidup dan tabiat manusia. Maka ada sebuah kalimat yang ingin saya katakan kepada diri saya sendiri, yaitu: Jika kamu berharap dunia akan adil terhadapmu karena kamu telah berlaku adil, maka sebenarnya kamu sedang membodohi dirimu sendiri. Karena itu sama saja dengan meminta seekor singa untuk tidak memakan kamu karena kamu tidak memakan singa itu.
Saya meminta kepada Tuhan untuk selalu diberi kesadaran diri. Kesadaran diri menjadikan saya orang yang peka. Peka akan hakikat diri saya, peka akan lingkungan dan orang-orang di sekitar saya. Dan kepekaan ini mendekatkan saya kepada syukur. Tetapi manusia tetaplah manusia. Dan saya adalah salah satu dari manusia itu, terkadang terlalu asyik dan terlena sehingga saya lupa dan juga berlaku salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar